About the Journal

Limen, Jurnal Agama dan Kebudayaan                                Online ISSN 2963-8097

Limen Jurnal ilmiah Agama dan Kebudayaan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur yang terbit dua kali setahun (April dan Oktober)

Limen (Latin: ambang batas gawang pintu, garis batas) merupakan kata dasar liminal yang dalam antropologi merujuk pada saat peralihan dalam perjalanan hidup manusia, baik yang berkait dengan tahap-tahap perkembangan kedewasaan, kedudukan sosial, maupun berbagai peralihan lain yang menyentuh hidup secara mendalam.

Limen mengajak Anda berdiri di ambang, melintasi batas, serta memasuki tahap-tahap baru kehidupan dan mendapatkan pencerahan

Current Issue

Vol. 19 No. 1 (April) (2022)
					View Vol. 19 No. 1 (April) (2022)

Editorial

Pembaca budiman, Limen edisi ini menyajikan lima naskah dari khasanah teologi, hukum kanonik, eklesiologi, hubungan antaragama, dan antropologi.
Pertama, Fransiskus Guna menulis artikel tentang Teologi Apofatik Thomas Aquinas. Menurutnya, dalam tradisi teologi Kristen, istilah teologi ‘apofatik’ telah diperlakukan sebagai salah satu dari dua cara mendasar untuk berbicara tentang Tuhan, selain teologi ‘katafatik’. Teologi ‘apofatik’ dengan tegas menyatakan bahwa satu-satunya hal yang dapat kita katakan tentang Tuhan bukanlah apa itu Tuhan, tetapi apa yang bukan Tuhan. Gagasan-gagasan alkitabiah dan patristik tentang cara apofatik menjadi landasan dasar untuk melakukan pendekatan teologis semacam itu. Di atas fondasi itu Thomas Aquinas membangun teologi apofatiknya sendiri. Inti teologi apofatik Aquinas bukanlah kurangnya pengetahuan atau ketidakmungkinan pengetahuan, melainkan kesadaran terus-menerus akan deus semper maior. Teologi apofatiknya tidak berarti bahwa seseorang tidak dapat berbicara dengan jujur tentang Tuhan, melainkan bahwa berbicara tentang Tuhan selalu tidak memadai.
Pada artikel kedua, Philip Ola Daen mengupas soal keberadaan dan penegakan hukum dalam Gereja yang sering dicap dengan stigma bahwa Gereja terutama adalah masyarakat amal, bukan masyarakat yuridis, sehingga hanya Injil yang boleh ditegakkan sebagai hukum. Dikotomi antara Gereja amal dan Gereja yuridis terjadi karena ketidaktahuan. Konstruksi konsep hukum yang stigmatis ini harus dirontokkan dengan merekonstruksi persepsi yang benar tentang Gereja sebagai suatu masyarakat. Hukum Gereja berakar pada Kitab Suci, yang ada untuk pelayanan persekutuan dan keselamatan jiwa. Hukum tidak bertentangan dengan amal karena keduanya pada hakikatnya tidak bertentangan. Hukum juga tidak bertentangan dengan kebebasan karena tugas utama hukum ialah mewujudkan kebebasan sejati.
Di artikel berikutnya Konstantinus Bahang menuliskan korelasi pemikiran Paus Fransiskus dan Gereja Sinodal. Menurut Bahang, Gereja sinodal mau mewujudkan ide Gereja sebagai persekutuan dalam Konsili Vatikan II. Dengan Gereja sinodal, Paus Fransiskus menekankan primat Umat Allah sebagai pelaku utama kehidupan menggereja dan sebagai tujuan pelayanan dalam Gereja. Gereja sinodal mau mewujudkan persekutuan Tritunggal dan misi Allah melalui Gereja untuk menyatukan semua orang. Demi partisipasi optimal Umat Allah, paus mendorong pengembangan sensus fidelium dan perluasan ruang yang digunakan untuk berkonsultasi (wadah-wadah kolegial) serta menjadi cara kerja baru dalam pelayanan dan kepemimpinan Gereja.
Di artikel keempat, Mathias Daven menuangkan pemikirannya tentang tantangan bagi hubungan antara Islam dan Kristen di Indonesia. Daven mengkaji tentang bagaimana umat Islam dan Kristen di Indonesia menaklukkan ketegangan dilematis antara klaim kebenaran dan toleransi mereka terhadap perdamaian dan keadilan dalam hidup bersama. Hubungan harmonis antara kedua kelompok agama ini mengalami pasang-surut dan hampir tidak tergantung pada upaya kedua belah pihak untuk mengatasi ketegangan antara klaim kebenaran dalam agama masing-masing. Tantangannya, dapatkah umat Islam dan Kristen mempertahankan prinsip-prinsip absolut dari agama masing-masing sambil mematuhi rahasia pemeliharaan ilahi yang membutuhkan pluralitas agama? Bagaimana kita mengembangkan toleransi berdasarkan gagasan keadilan?
Artikel kelima adalah karya Agustinus Meko yang mengkaji tentang hubungan ekologi dan identitas keagamaan masyarakat Dayak Bahau dalam tradisi hudoq. Menurut Meko, antara manusia dan alam terdapat suatu mata rantai yang tidak terpisahkan. Dari alamlah masyarakat Dayak Bahau menemukan jati dirinya. Namun, masuknya modernisme dan pembangunan yang tidak ramah lingkungan, telah mengakibatkan terjadinya krisis ekologis, krisis identitas, dan krisis makna. Laudato Si' mengisyaratkan bahwa transformasi kehidupan sangat diperlukan ketika manusia berhadapan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sering disalahgunakan untuk mengeksploitasi alam dan budaya. Semua orang diajak untuk membangun kehidupan yang berintegritas, yaitu mengenal jati diri dan bertumbuh dalam kesehateraan.
Selamat membaca.

Published: 2022-09-20
View All Issues

Limen, Jurnal Agama dan Kebudayaan                                                       Online ISSN 2963-8097

Limen Jurnal ilmiah Agama dan Kebudayaan Sekolah Tinggi Filsafat Telogi Fajar Timur yang terbit dua kali setahun (April dan Oktober)

Limen (Latin: ambang batas gawang pintu, garis batas) merupakan kata dasar liminal yang dalam antropologi merujuk pada saat peralihan dalam perjalanan hidup manusia, baik yang berkait dengan tahap-tahap perkembangan kedewasaan, kedudukan sosial, maupun berbagai peralihan lain yang menyentuh hidup secara mendalam.

Limen mengajak Anda berdiri di ambang, melintasi batas, serta memasuki tahap-tahap baru kehidupan dan mendapatkan pencerahan